[Book Review] Into The Water By Paula Hawkins

Mungkin bagi pencinta novel thriller pasti sudah mengenal sosok Paula Hawkins lewat karyanya The Girl On The Train yang merupakan novel fiksi terlaris di inggris, dan bahkan\n novelnya sudah di adaptasi ke film, yah walaupun saya film nya tidak sebaik bayangan saya ketika membaca novelnya tetapi tetap membuat rasa penasaran saya muncul untuk melihat akhir filmnya.

Berkat cerita yang bagus dan karakter yang kuat, para pembaca yang kadung sudah jatuh cinta dengan karya Paula Hawkins pasti tidak sabar menunggu karya selanjutnya dan beliau baru saja menerbitkan novel keduanya berjudul Into The Water, dengan latar di kota kecil inggris bernama Beckford dan kehidupan sederhana masyarakatnya, cukup berbeda dengan novel pertamanya yang menunjukkan bagaimana kehidupan yang ramai kota london.

Kehidupan sederhana di kota kecil ternyata tidak sedamai yang kalian bayangkan, karena ternyata di kota kecil tersebut menyimpan kisah dari masa lalu tentang kolam penenggelaman, kolam tersebut merupakan bagian dari sungai yang mengalir di kota tersebut dan merupakan daya tarik terbesar dari kota tersebut dengan kisah-kisah menyeramkannya. Tetapi walaupun begitu penduduk kota tersebut tetap menyukai sungai dan kolam nya walau hanya untuk berenang, memancing, merenung, dan bahkan hanya sekedar untuk mendengar suara aliran sungai yang menggoda.

Into The Water By Paula Hawkins

Pada novel terbaru nya ini Paula Hawkins memberikan rasa yang berbeda, yaitu sudut pandang ceritanya dari berbagai orang di kota Beckford, cukup berbeda dengan novel pertama yang ceritanya hanya dari tiga tokoh utamanya yang saling terkait. Walaupun cukup banyak sudut pandang yang digunakan tidak mengurangi kekuatan dari masing-masing karakternya, justru saya melihatnya semakin membuat teka-teki pada novel ini tersembunyi dengan baik sampai alenia terakhir.

Plot cerita novel ini tentang kematian seorang wanita di kolam penenggalaman dan hal tersebut tentu saja menggemparkan semua orang di kota tersebut karena dua bulan sebelumnya telah terjadi hal yang sama terhadap gadis di kolam yang sama, dan yang membuat menarik adalah kematian dua wanita tersebut terlihat seperti bunuh diri karenanya tidak adanya bukti yang menguatkan motif lain. Wanita terakhir yang meninggal bernama Nel Abbot biasa di panggil Nel, seorang ibu yang sangat suka berenang di kolam sungai tersebut mulai dari kecil hingga dewasa, Nel memiliki putri bernama Lena, dan adik perempuan bernama Jules yang tinggal di london yang telah secara sepihak memutuskan hubungan dengan Nel karena masalah ketika remaja, dan walaupun begitu Nel selalu mencoba untuk selalu menghubungi Jules, sampai ketika kejadian naas menimpa Nel.

Jules yang terkejut mendengar kabar kematian kakak perempuannya, segera datang memenuhi panggilan polisi untuk memberikan informasi sekaligus menindetifikasi mayat sang kakak. Jules datang ke kota nya dengan di penuhi kengangan kelam yang menyakitkan dan ditambah lagi putri dari kakaknya ikut serta menyalahkannya karena tidak pernah mau mengangkat telpon ibunya, yang kemungkinan apabila Jules mau berbicara dengan kakaknya bisa saja Nel tidak tewas.

Jules merupakan salah satu orang yang tidak percaya bahwa kakaknya melakukan bunuh diri, karena dia sangat mengenal kakak yang mencintai sungai dan kolam di Beckford, dan merupakan perenang yang handal, Lena sang putri memiliki pandangan yang berbeda, bahwa dia memiliki keyakinan kematian ibunya berhubungan dengan project yang sedang dilakukanya terkait menguak cerita tewasnya para perempuan di kolam penenggelaman termasuk sahabat Lena yang meninggal dua bulan sebelum ibunya di kolam yang sama.

Cerita novel ini di bagi menjadi empat bagian, bagian pertama menurut saya masih cukup lamban temponya dan lebih ke pengenalan masing-masing karakter, bagian kedua dan ketiga tempo cerita sudah meningkat dan memberikan kita rasa penasaran yan tinggi, dan membuat kita yakin siapa pelakunya, dibagian ke empat adalah bagian paling menyebalkan, karena bagian yang membuyarkan dan mematahkan terkaan saya, dan masih kesal pada saat membaca alenia terakhirnya.

Mini Review

Dikarenakan cerita menggunakan sudut pandang setiap orang di Beckford, saya jujur kesulitan untuk menerka siapa dan motif apa yang menyebabkan kematian para perempuan di Beckford, bahkan saya harus sampai di alenia akhir untuk mengetahuinya, apakah Paula Hawkins sengaja memberikan cukup banyak sudut pandang untuk menciptakan plot twist di akhir cerita, apabila begitu maksudnya, saya rasa dia sangat berhasil.

Menurut saya di novel keduanya ini Pula Hawkins berhasil memberikan warna yang berbeda dengan novel pertamanya, walaupun menurut saya pribadi lebih menyukai kekuatan karakter di karya pertamanya, di novel keduanya ini lebih sangat terhubung dengan banyak pembaca karena semua konflik yang di tampilkan cukup umum yaitu anatara anggota keluarga, antara sahabat, suami istri, dan tentunya dengan tetangga sekitar.

Pesan yang coba di sampaikan novel ini juga cukup mengena di pikiran saya, ketika ada kalimat, “Setiap orang tua menyangka dia yang paling mengenal anaknya, tetapi ternyata dialah yang paling tidak mengenalnya.” Dan kalimat tersebut sangat benar, karena ketika saya remaja cukup banyak kenakalan dan rahasia pribadi saya yang tidak di ketahui oleh orang tua, hanya teman dan sahabat yang mengetahuinya, aduh jadi kepikiran anak sendiri misalkan nanti dia remaja, mudah-mudahan saya mengenal anak saya luar dalam.

Selamat membaca ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s