Thriving And Progressing In Disruptive Era

Akhir bisa kembali berbagi melalui tulisan lagi setelah sepekan terombang-ambing dengan kesibukan, kesempatan kali ini saya mau berbagi cerita tentang kegiatan training at lunch yang diadakan oleh kantor saya bertajuk “Thriving And Progressing In Disruptive Era“, keren yah judulnya saya saja sampai terpana melihatnya, singkat cerita tujuan kegiatan ini adalah dapat memberikan kita pandangan baru tentang bagaimana menghadapi kemajuan zaman now yang sangat pesat yang apabila kita tidak bisa beradaptasi untuk mengikutinya maka kita akan tertinggal dan tenggelam seperti kecebong nyemplung dilautan, ihh serem.

Pada acara ini ada dua pembicara yang di undang, mereka merupakan orang-orang yang sangat handal pada bidangnya di zaman now yaitu Ernest Prakasa dan Ratih Ibrahim. Mungkin sudah pada tahu yah dengan Ernest lewat standup comedy dan novel nya, dan sekarang dia mulai merambah menjadi aktor, sutradara, dan bahkan sebagai produser, film-film yang di hasilkan juga selalu mempunyai pesan sosial yang banyak terjadi di masyarakat sehingga laris manis di pasaran, dan tidak hanya itu film nya pun memenangkan banyak penghargaan, seperti film Ngenes dan Cek Toko Sebelah. Sedangkan pembicara Ratih Ibrahim merupakan profesional psikolog yang sudah malang melintang di bidangnya kurang lebih 20 tahun, dan berkat kerja kerasnya Ratih berhasil memiliki klinik sendiri dan meneguhkan dirinya sebagai psychologist enterpreneur, yang sudah berpengalaman menangani permasalahan berbagai generasi mulai dari anak-anak, remaja, dan bahkan sampai orang dewasa, mulai dari permasalahan sepele sampai masalah super rumit, semuanya sudah di lalui mba Ratih.

Personal growth merupakan yang menjadi fokus dari pertanyaan coba di ajukan ke kedua pembicara, mba Ratih mulai bercerita tentang pengalaman kliennya di zaman now dengan kaum milenial, ada seorang remaja 16 tahun yang menemuinya dan mendiagnosa dirinya seorang borderline dan selalu menantang mba Ratih dengan pertanyaan yang sangat kritis, dan itu lah yang membedakan perkembangan anak zaman now jauh berbeda dengan zaman old, yang tentunya anak zaman now lebih kritis dan selalu penasaran dengan hal baru. Nah ketika pertanyaan yang sama di ajukan ke Koh Ernest, dia bercerita bagaimana dirinya selalu membiasakan dirinya tidak lama berada di zona nyaman, “stay hungry, stay foolish”  kita harus merasa selalu lapar dengan ilmu dan mencoba sesuatu yang baru, dan tentunya kita harus selalu menganggap diri kita bodoh sehingga kita selalu membuka pikiran untuk belajar sesuatu yang baru dan menerima pelajaran dari orang lain.

Koh Ernest mulai bercerita pengalaman hidupnya ketika masih kecil menjadi korban bully teman-teman sekolah, dan bahkan dia pernah merasa dendam dengan orang-orang yang mem-bully dia, tetapi ketika dia menemukan standup comedy, Koh Ernest seperti menemukan cara terapinya sendiri melalui komedi untuk membuat dirinya secara perlahan bangkit dari trauma dari bully, bahkan melalui karya-karya nya sekarang dia berhasil membuka pikiran orang banyak yang sebelumnya tabu untuk di bahas, menjadi sesuatu komedi yang bisa di nikmati oleh berbagai kalangan.

Meneruskan pengalaman Koh Ernest, Mba Ratih menjelaskan bahwa kehidupan manusia itu sama halnya dengan denyut jantung manusia, apabila kita sudah nyaman akan sesuatu maka detak jantung pun kita akan konstan dan apabila terlalu lama bisa bahaya, karena detak jantung kita bisa menjadi flat line alias koit, dengan kata lain comfort zone killing you slowly, serem kan. Nah oleh karena itu, hidup itu harus memiliki variasi dan harus selalu mencari sesuatu yang bisa meningkatkan andrenalin kita, walaupun di mulai dengan berat dan tidak nyaman justru itu dapat membuat kita memiliki daya resistensi yang lebih kuat di banding sebelumnya.

Setiap perubahan dapat membuat masa depan yang baru, yup creating future, pasti setiap orang memiliki impiannya sendiri dalam mencapainya kita perlu membuat masa depan kita sendiri tentunya tentunya dengan cara yang sesuai dengan perkembangan zaman, Koh Ernest mencontohkan dengan mudah, dia aktif di sosial media, dan dari tahun ke tahun selalu ada saja aplikasi socmed yang baru dan booming dikalangan netizen, dahulu Koh Ernest hanya bermain di twitter sekarang, dia mencoba Vlog melalui Youtube, bahkan yang terkini dia mencoba Snapchat yang sedang di gandrungi kaula muda mudi milenial, dan menurutnya hal tersebut membuat dia belajar kembali bagaimana cara menggunakan aplikasi tersebut dan tentunya itu butuh kemauan.

Dan di penghujung acara pesan yang sama coba di sampaikan oleh kedua pembicara yaitu kita harus pandai berdaptasi dengan perkembangan zaman, mau tidak mau, tidak menunggu lagi, karena zaman bergerak sangat cepat, dan masing-masing orang berlomba-loma membuat masa depannya sendiri. So tunggu apa lagi, kalian juga harus mulai!

2 thoughts on “Thriving And Progressing In Disruptive Era

  1. Aku suka banget sama Ernest. Menurutku dia tidak berhenti belajar dan berkembang. Meski orang kenal dia sebagai stand up comedian, dia terus mencoba hal baru. Salut. Pasti seru dengar ceritanya langsung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s