Wanita Ksatria

Sebelum saya bercerita panjang lebar, ini merupakan tulisan yang saya dedikasikan untuk istri saya tercinta.

Menurut pendapat saya pribadi setiap pria pasti memiliki minimal satu wanita ksatria dalam hidupnya entah itu, ibu, istri, atau bahkan orang lain yang tidak ada hubungan keluarga. Pertanyaan untuk semua pria, sudah kah kau menemukan wanita ksatria mu?

Selain ibu yang sudah menjadi ksatria dalam hidup saya semenjak saya kecil hingga saya dapat hidup mandiri, ada satu lagi wanita yang menurut saya merupakan ksatria yang sama hebat nya dengan ibu saya, yaitu istri saya.

Saya tidak perlu menyebutkan berbagai alasan agar kalian percaya bahwa istri saya merupakan wanita ksatria di hidup saya, sudah banyak pembuktian yang saya lihat dengan secara langsung dengan mata telajang saya, mulai dari pengorbanan kecil sampai besar yang membuat hidupnya berubah 180° demi keluarga kecil yang kami bangun mulai dari nol besar.

Pernah di suatu pagi sehari sebelum melahirkan putri pertama kami, setengah wajah istri saya mengalami kaku dan tidak bisa di gerakkan bahkan untuk mengedipkan mata saja tidak bisa, kejadian tersebut sontak membuat kami kelimpungan dan tidak tahu harus berbuat apa, karena kami mengira hal tersebut mirip seperti serangan stroke, pada saat tiba di rumah sakit baru lah kita berdua tahu bahwa istri saya terkena bel palsy dan bukan stroke, walaupun istri saya terus kekeh untuk tetap dapat melahirkan secara normal dengan mencoba induksi secara bertahap, tetapi di karenakan kondisi detak jantung bayi dalam kandungan terus menurun, kemungkinan karena kesedihan dan shock yang di terima oleh istri saya, sehingga dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi caesar karena berbagai pertimbangan, selama menunggu persiapan operasi kami hanya bisa terdiam dan pasrah, terlalu banyak hal yang di pikirkan, kami hanya bisa mengeluarkan air mata dengan saling menggenggam tangan tanpa berkata, karena air mata sudah cukup menjelaskan apa yang kita pikirkan, alhamdulilah proses kelahiran berjalan lancar walaupun putri kami harus masuk ruang nicu karena air ketuban sudah mulai menghijau dan di khawatirkan sang bayi dapat terkena bakteri. Di saat kita kembali pulang, dimulailah perjuangan baru oleh istri saya, yaitu terapi setrum wajah untuk memulikan motorik wajah agar kembali normal, dan jadwal terapi harus dilakukan tiap hari selama sebulan penuh, agar dapat segera pulih otot wajahnya, dan syukurlah perjuangan selama sebulan penuh tidak sia-sia, wajah istri saya kembali normal walaupun tidak 100% seperti sedia kala, tetapi kami tetap bersyukur.

Setelah istri kembali dari masa cutinya dan masuk bekerja, kami harus menitipkan putri kami ke orangtua istri dikarenakan kami belum mampu untuk memperkejakan babysitter, dan keadaan tersebut membuat kami berkaca dan merasa bersalah karena sudah melempar tanggung jawab sebagai orang tua yang seharusnya kami pikul, sejak saat itu istri menetapkan hati untuk mengundurkan diri dari dunia perkantoran dan rela menanggalkan pendapatan yang sudah lumayan di saat itu, untuk di gantikan dengan membesarkan dan mendidik sendiri putri pertama kami secara langsung.

Pada saat kami di percaya kembali untuk memiliki anak kedua, kami mengalami cerita yang berbeda lagi, pada saat awal kehamilan istri harus bedrest selama seminggu full karena pendarahan, kemungkinan karena capek juga mengurus anak pertama yang disaat itu baru berumur 2,5 tahun. Istri yang sudah niat untuk melahirkan secara normal atau VBAC karena anak pertama kami melalui operasi caesar, di saat proses persalinan anak kedua merupakan momen yang membuat saya tersadar betapa berdosanya saya dengan ibu saya, karena di situ saya melihat langsung betapa susah menjadi seorang ibu, keringet bercucuran dari seluruh wajah, darah di mana-mana, bahkan karenakan putri kedua kami yang masih malu-malu untuk keluar, dokter harus menggunakan vacum karena khawatir istri saya akan kehabisan tenaga, setelah putri kami keluar dengan selamat, ternyata rasa lega harus di redam sementara karena plasenta yang ditunggu-tunggu tak kunjung keluar dengan kata lain istri saya mengalami plasenta lengket dan harus di keluarkan secara manual, setelah proses tersebut selesai wajah istri saya pucat sekali karena terlalu banyak mengeluarkan darah, dan harus segera di lakukan tranfusi darah untuk memulihkan kondisinya. Perjalanan kami kembali ke rumah ternyata belum menyudahi urusan kami dengan rumah sakit, karena hanya selang sehari putri kami harus segera menginap kembali ke rumah sakit karena bilirubin yang tinggi, dan syukurlah setelah tiga hari perawatan, putri kedua kami sudah di perbolehkan kembali ke rumah.

Dengan menjadi maming dari dua putri dengan berbagai problematika dalam mendidik anak, syukurlah istri saya dapat menyeimbanginya dengan melalukan beberapa hobi yang katanya dapat tetap mewaraskan jiwanya yaitu menulis dan foto, karena saya tahu betul ketika di akhir pekan ikut membantu untuk menjaga dua putri kami pasti ada saja rasa gregetan dan seakan jiwa raga capek sekali dibanding bekerja di kantor, bagaimana istri saya selama seminggu penuh berurusan dengan kedua putri kami, saya hanya bisa kagum.

Saya bercerita bukan bermaksud untuk mengaharapkan simpati, tetapi hanya untuk berterima kasih kepada istri saya karena sudah menjadi wanita ksatria, semoga jiwa ksatria mu menular ke kedua putri kita, sehingga bisa menjadi wanita ksatria seperti mamingnya. Semoga di hari bertambahnya usiamu ini, selalu disehatkan jasmani dan rohani mu, selalu dimudahkan rezeki mu, selalu menjadi wanita rendah hati, dan tetap menjadi wanita ksatria di keluarga mungilmu. Maafkan  suamimu yah, kadonya tahun ini hanya sketsa wajahmu, voice note, dan tulisan sederhana ini. Semoga semua ini dapat mengingatkan kembali dari mana kita memulai.

Advertisements

7 thoughts on “Wanita Ksatria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s